Tingginya Porsi Impor Bahan Baku pada Industri Makanan dan Minuman

 967x dilihat

Industri makanan dan minuman (mamin) memiliki kontribusi yang besar bagi perekonomian Indonesia. Pada tahun 2022, kontribusi sektor ini terhadap PDB Indonesia mencapai 6,32%. Pasca Covid-19, industri mamin tumbuh cukup baik hingga saat ini. Seiring dengan pulihnya industri mamin, ekspor di sektor tersebut juga meningkat cukup signifikan. Ke depannya, industri mamin masih akan menjadi andalan penunjang PDB dan ekspor mengingat meningkatnya investasi di sektor ini sejak tahun lalu.

Pada tahun 2021, pertumbuhan industri mamin mencapai 2,54% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 1,58%. Kinerja positif industri mamin berlanjut hingga tahun 2022. Pada tahun 2022, kinerja industri mamin tumbuh signifikan menjadi sebesar 4,90%. Pertumbuhan industri mamin sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDB nasional sebesar 5,31%. Pertumbuhan PDB pada industri mamin merupakan yang tertinggi sejak tahun 2019 lalu.

Gambar 1. Perbandingan Pertumbuhan PDB Industri Makanan dan Minuman dan Nasional.
Sumber: BPS, 2022

Aktivitas produksi industri mamin diperkirakan akan semakin meningkat mengingat mulai pulihnya ekonomi pasca Covid-19. Dua tahun sejak virus Covid-19 merebak pertama kali, ekonomi sudah semakin pulih ditandai dengan mulai beroperasinya lini-lini bisnis di Indonesia, kantor pemerintahan, aktivitas pembelajaran, dan sektor pariwisata. Seiring dengan tumbuhnya ekonomi, permintaan akan produk minuman dan makanan semakin meningkat, sehingga dapat mendorong kinerja industri mamin. Kendati demikian, kondisi industri mamin belum sepenuhnya pulih jika dibandingkan dengan keadaan sebelum pandemi.

Dalam melakukan produksinya, industri mamin masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Berdasarkan data dari 35 industri mamin pada publikasi BPS Statistik Industri Manufaktur Tahun 2019, rata-rata porsi nilai impor input terhadap total biaya bahan baku mencapai 14,4%. Beberapa industri mamin yang memiliki pangsa impor bahan baku terbesar yakni Industri Minuman Beralkohol Hasil Fermentasi Malt dan Industri Malt, Industri Pengolahan Susu Bubuk dan Susu Kental, Industri Pengolahan dan Pengawetan Buah-Buahan dan Sayuran Dalam Kaleng, Industri Makaroni, Mie dan Produk Sejenisnya, Industri Penggilingan Serelia dan Biji-Bijian Lainnya (Bukan Beras Dan Jagung), serta Industri Makanan dan Masakan Olahan.

Industri Minuman Beralkohol Hasil Fermentasi Malt dan Industri Malt yang termasuk dalam kode 1103 dalam Kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) memiliki pangsa impor bahan baku terbesar yakni 88,80% terhadap total biaya bahan baku. Tepung gandum merupakan bahan baku utama pada industri ini dengan pangsa 61,73% terhadap total biaya bahan baku dan seluruhnya didapatkan dari impor. Selain tepung gandum, bahan baku utama lainnya yang berasal dari impor yakni yeast dan malt yang masing-masing memiliki pangsa sebesar 11,48% dan 9,05% terhadap total biaya bahan baku industri minuman beralkohol hasil fermentasi malt dan industri malt.

KBLI 2015Deskripsi SektorJumlah PerusahaanBahan Baku Impor (Ribu Rp.)Total Bahan Baku (Ribu Rp.)Porsi Bahan Baku Impor Terhadap Total Biaya Bahan Baku (%)
1103Industri minuman beralkohol hasil fermentasi malt dan industri malt613.695.35515.422.69888,80
1052Industri pengolahan susu bubuk dan susu kental244.264.018.1807.558.870.68656,41
1032Industri pengolahan dan pengawetan buah-buahan dan sayuran dalam kaleng6522.810.6491.653.974.57431,61
1074Industri makaroni, mie dan produk sejenisnya2825.279.724.69217.188.873.15130,72
1061Industri penggilingan serelia dan biji-bijian lainnya (bukan beras dan jagung)7110.622.864.97835.845.277.54329,64
1075Industri makanan dan masakan olahan74506.168.9031.905.729.38426,56
1109Industri minuman lainnya37715.792.3062.970.062.90624,10
1079Industri produk makanan lainnya10434.302.719.85819.511.983.63822,05
1102Industri minuman beralkohol hasil fermentasi anggur dan hasil pertanian lainnya1240.231.335281.812.96114,28
1077Industri bumbu-bumbuan dan produk masak lainnya3865.329.975.68737.823.288.37814,09
1039Industri pengolahan dan pengawetan lainnya buah-buahan dan sayuran18390.138.446756.856.82111,91
1051Industri pengolahan susu segar dan krim31641.240.4295.609.539.61711,43
1073Industri kakao, cokelat dan kembang gula1322.804.499.56524.558.695.12611,42
1022Industri pengolahan dan pengawetan ikan dan biota air dalam kaleng114915.477.70010.623.708.4178,62
1076Industri pengolahan kopi, teh dan herbal (herb infusion)2681.601.156.24730.300.391.0185,28
1104Industri minuman ringan126478.730.4079.851.299.0864,86
1063Industri penggilingan beras dan jagung dan industri tepung beras dan jagung4211.076.721.67524.341.910.3384,42
1021Industri pengolahan dan pengawetan ikan dan produk ikan692834.900.98428.168.010.2212,96
1071Industri produk roti dan kue851397.578.66814.818.711.5072,68
1031Industri pengolahan dan pengawetan buah-buahan dan sayuran dengan cara diasinkan, dilumatkan, dikeringkan dan dibekukan6468.217.4773.433.724.7131,99
1072Industri gula135578.279.26333.719.428.9251,71
1013Industri pengolahan dan pengawetan produk daging dan daging unggas84123.828.9638.829.179.1181,40
1029Industri pengolahan dan pengawetan biota air lainnya288132.452.19012.749.957.4451,04
1053Industri pengolahan es krim dan sejenisnya3012.448.4921.748.519.3900,71
1042Industri kopra, minyak mentah dan minyak goreng kelapa, tepung dan pelet kelapa11767.962.44312.935.898.7730,53
1043Industri minyak mentah/murni kelapa sawit (crude palm oil) dan minyak goreng kelapa sawit10861.816.126.113550.032.879.2200,33
1105Industri air minum dan air mineral39625.602.96611.717.094.0260,22
1059Industri pengolahan produk dari susu lainnya131.455.881923.214.9260,16
1011Kegiatan rumah potong dan pengepakan daging bukan unggas9-116.617.3570,00
1012Kegiatan rumah potong dan pengepakan daging unggas365.583.306.1080,00
1033Industri pengolahan sari buah dan sayuran13092.805.8260,00
1041Industri minyak dan lemak nabati dan hewani (bukan kelapa dan kelapa sawit)2005.120.030.0620,00
1062Industri pati dan produk pati (bukan beras dan jagung)17305.404.543.9090,00
1101Industri minuman beralkohol hasil destilasi150995.632.4520,00
Tabel 1. Porsi bahan baku impor terhadap total biaya bahan baku pada industri makanan dan minuman. (Sumber: BPS Statistik Industri Manufaktur Bahan Baku versi Tahun 2019)

Industri lainnya yang memiliki pangsa bahan baku impor yang tinggi yakni industri Pengolahan Susu Bubuk Dan Susu Kental. Secara total, kontribusi bahan baku impor pada industri ini sebesar 56,41%. Susu segar merupakan komponen bahan baku utama dengan pangsa 99,22%. Adapun bahan baku susu segar yang berasal dari impor memiliki pangsa sebesar 55,97% terhadap total biaya bahan baku.

Industri Pengolahan dan Pengawetan Buah-Buahan dan Sayuran Dalam Kaleng juga memiliki pangsa bahan baku impor yang tinggi sebesar 31,61% terhadap total biaya bahan baku. Buah nanas merupakan bahan baku kontributor utama, namun pasokan seluruhnya berasal dari lokal. Adapun bahan baku impor terdiri dari coil (pangsa 12,88% terhadap total biaya bahan baku), easy open (penutup kaleng) (pangsa 9,51% terhadap total biaya bahan baku), gula pasir (pangsa 5,83% terhadap total biaya bahan baku), dan cold rolled coil (CRC) (pangsa 3,39% terhadap total biaya bahan baku).

Industri selanjutnya yang memiliki pangsa bahan baku impor yang tinggi adalah industri Makaroni, Mie dan Produk Sejenisnya dengan pangsa sebesar 30,72% terhadap total biaya bahan baku. Tepung gandum dan bungkil kedelai merupakan bahan baku impor utama dalam industri ini. Biaya pembelian bahan baku tepung gandum memiliki pangsa sebesar 10,60% terhadap total biaya bahan baku, sementara bungkil kedelai sebesar 8,42%. Adapun bahan baku impor lainnya berasal dari gandum, jagung dan bumbu-bumbu.

Industri lainnya adalah industri Penggilingan Serelia Dan Biji-Bijian Lainnya (Bukan Beras Dan Jagung) dengan pangsa bahan baku impor sebesar 29,64% terhadap total biaya bahan baku. Bahan baku impor utama pada industri ini terutama berasal dari gandum dengan pangsa 47,54% terhadap total biaya bahan baku. Kendati demikian, pangsa bahan baku gandum yang berasal dari impor memiliki pangsa 24,25% terhadap total biaya bahan baku. Selain gandum, bahan baku impor yang lainnya berasal dari jagung muda kering dengan pangsa 4,60% terhadap total biaya bahan baku.

Selanjutnya, Industri Makanan Dan Masakan Olahan juga memiliki pangsa bahan baku impor yang cukup tinggi sebesar 26,56% terhadap total biaya bahan baku. Daging sapi merupakan bahan baku utama dalam industri ini. Pangsa bahan baku daging sapi sebesar 50,26% terhadap total biaya bahan baku. Kendati demikian, bahan baku daging sapi yang diimpor memiliki pangsa sebesar 26,28% terhadap total biaya bahan baku. Bahan baku impor lainnya berasal dari ikan, kacang kedelai, tepung umbi-umbian serta bumbu-bumbu.

Industri mamin merupakan industri yang sangat penting dan berkontribusi tinggi bagi perekonomian Indonesia. Kedepannya, pertumbuhan industri ini masih sangat prospektif. Dibandingkan tahun sebelumnya, investasi pada industri mamin meningkat pada tahun 2022. Bahkan investasi dalam negeri (PMDN) untuk industri ini sudah mengalami tren peningkatan sejak tahun 2020. Adapun investasi asing cenderung lebih fluktuatif, namun lebih tinggi dibandingkan perolehan investasi pada akhir tahun 2021.

Gambar 2. Perkembangan investasi pada industri makanan dan minuman dan nasional. (Sumber: Data BPS, 2022)

Dalam melakukan produksinya, industri makanan dan minuman masih mengandalkan bahan baku impor. Perkiraan adanya resisi ekonomi global dapat memberikan ancaman bagi industri ini. Pasalnya, ketergantungan industri mamin terhadap bahan baku impor cukup tinggi. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menyiapkan langkah antisipatif. Contohnya, dengan melakukan pertemuan bisnis antara industri mamin dengan pemasok lokal agar pelaku usaha di industri ini memiliki alternatif supplier lain di saat impor bahan baku terganggu akibat resesi ekonomi global.