PeMbungkus: AGAR KEMASAN SESUAI KETENTUAN

 142x dilihat

PENDAHULUAN

Berkali-kali dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya kemasan atau packaging yang baik dalam meningkatkan nilai jual produk. Salah satu contoh pada saat memberikan sambutan pada Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) ke-46 dan Peresmian Pembukaan Jambore Nasional Kader PKK Tahun 2018 di Jakarta tanggal 2 Oktober 2018. Kepala Negara mengingatkan, barang sebagus apapun tanpa kemasan yang baik menjualnya itu tidak mudah, menjualnya itu sulit. Tetapi kalau barangnya sudah bagus, packaging-nya bagus, maka diyakini Kepala Negara menjualnya akan sangat mudah sekali[1].

Contoh lainnya saat meluncurkan Gerakan Kemitraan Inklusif untuk UMKM Naik Kelas yang diadakan pada tanggal 3 Oktober 2022 lalu di Jakarta. Presiden mengatakan, “Ada tadi madu, biasanya dimasukkan botol, dijual di pasar-pasar tapi dengan packaging yang bagus dan branding nama yang baik pasti harganya akan lipat dua atau tiga kali. Hal-hal yang sentuhan-sentuhan seperti itu yang kita harapkan”[2].

Terakhir pada saat meresmikan Papua Youth Creative Hub (PYCH) di Jayapura pada tanggal 21 Maret 2023 lalu. Presiden mengaku senang melihat produk-produk kreasi dan inovasi anak muda Papua yang ada di PYCH. “Semuanya ada di PYCH ini, dari mulai tadi masuk di pembuatan handphone, pembuatan laptop, kemudian ada podcast, ada studio musik, ada studio untuk fotografi, dan juga memamerkan produk produk yang ada di Tanah Papua dengan kemasan dan packaging, dengan branding yang sangat bagus sekali,” ujar Presiden[3].

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan, 30 persen produk yang memiliki kemasan bagus bisa meningkatkan penjualan[4]. Menurutnya, kemasan produk adalah salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan sebelum memasarkan produk, baik di dalam negeri maupun ekspor ke luar negeri.

Untuk menyikapi arahan Bapak Presiden ini, Kementerian Perindustrian meluncurkan platform digital e-Kemasan IKM di Jakarta pada tanggal 14 Desember 2021. “Sesuai arahan Bapak Presiden, bahwa packaging itu penting dan harus selalu diperbaiki, baik dalam segi branding, warna, maupun kemasan, sehingga saat masuk ke pasar, barang menjadi enak dilihat serta meningkatkan minat konsumen untuk membelinya. Arahan tersebut menguatkan kami untuk terus meningkatkan daya saing IKM melalui peningkatan kualitas kemasan,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita saat acara peluncuran tersebut[5]. Platform digital e-Kemasan IKM tersebut dapat diakses melalui laman https://e-klinikdesainmerekemas.kemenperin.go.id/.

PERMASALAHAN YANG DIANGKAT

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (yang diakses secara daring di https://kbbi.kemdikbud.go.id/), kemasan memiliki pengertian:

  1. Hasil mengemas.
  2. Bungkus pelindung barang dagangan (niaga).

Berdasarkan definisi di atas, dapat dikatakan kemasan berfungsi sebagai pembungkus barang dagangan atau pelindung barang dagangan.

Salah satu sektor penghasil barang dagangan adalah sektor industri. Menurut Undang-Undang nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri. Tujuan akhir dari barang hasil kegiatan industri tersebut tentunya untuk diperdagangkan. Untuk mempermudah memperdagangkannya, barang yang dihasilkan tersebut dikemas sesuai kuantitasnya, yang dalam istilah Metrologi Legal disebut Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT).

Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT) adalah Barang yang dimasukkan ke dalam kemasan baik yang tertutup secara penuh maupun sebagian dan untuk mempergunakannya harus membuka kemasan, merusak kemasan, atau segel kemasan, dan yang kuantitasnya ditentukan sebelum diedarkan, dijual, ditawarkan, atau dipamerkan.

Sayangnya di antara daftar peraturan perundang-undangan (regulasi) yang tercantum pada situs https://e-klinikdesainmerekemas.kemenperin.go.id/web/regulation yang Penulis akses pada tanggal 27 April 2023 tidak mencantumkan dasar hukum BDKT yaitu Undang-Undang nomor 2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal (UUML) beserta peraturan perundang-undangan turunannya. Padahal pengaturan tentang BDKT yang dimuat dalam UUML merupakan peraturan tertua terkait kemasan produk di antara peraturan-peraturan yang tercantum pada situs tersebut.

Pelaku Usaha yang paham pentingnya kemasan yang baik dan menarik berusaha membuat kemasan yang dapat meningkatkan nilai jual produknya. Berbagai hal yang dapat mendongkrak penjualan mereka terkait kemasan berusaha dipenuhi. Entah itu ukuran kemasan, pemilihan bahan kemasan, desain kemasan, atau hal lainnya. Namun masih banyak Pelaku Usaha yang tidak mengetahui bahwa terkait kemasan juga melekat pengaturan tentang BDKT. Berdasarkan Laporan Kinerja Direktorat Metrologi Tahun 2021, baru 59,17% BDKT yang beredar sesuai ketentuan. Sedang berdasarkan Hasil Pengawasan Balai Standardisasi Metrologi Legal Regional I Tahun 2021, 83% BDKT hasil pengawasan tidak sesuai ketentuan dengan rincian 56% tidak memenuhi ketentuan pelabelan dan 70% tidak memenuhi ketentuan pengujian kebenaran kuantitas. Sedang berdasarkan hasil pengawasan terhadap produk industri kecil Kabupaten Deli Serdang yang dipamerkan di Pusat Pengembangan Produk Unggulan Daerah (P3UD) Kabupaten Deli Serdang Tahun 2021, hanya 11,43% yang sesuai ketentuan pelabelan BDKT.

Rendahnya hasil kesesuaian ini menurut Penulis salah satunya disebabkan tidak adanya kewajiban memeriksakan produknya kepada Unit Metrologi Legal sebelum diproduksi massal. Dalam norma hukum, Pelaku Usaha dianggap telah mengetahui terkait ketentuan BDKT yang berlaku (asas fiksi hukum) sehingga Pelaku Usaha harus memastikan BDKT tercantum pelabelan kuantitasnya (Pasal 134 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perdagangan) dan menjamin kebenaran kuantitasnya sesuai dengan yang tercantum pada kemasan dan/atau label (Pasal 137). Sisi Pemerintah melakukan pengawasan. Alhasil, jika Pelaku Usaha tidak memahami ketentuan terkait BDKT, besar kemungkinan ketika pengawasan, BDKT tidak sesuai dengan ketentuan. Untuk itu sosialisasi kepada Pelaku Usaha harus lebih gencar dilakukan. Namun dengan segala keterbatasan anggaran yang ada, yang Penulis yakin terjadi di banyak kabupaten/kota, Pengawas Kemetrologian dituntut dapat melakukan sosialisasi terkait BDKT tersebut dengan cara-cara inovatif. Salah satu cara inovatif tersebut menurut Penulis dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Teknologi informasi dengan pemanfaatan jaringan internet telah berkembang luar biasa. Banyak aplikasi berbasis jaringan internet dibuat untuk membantu aktivitas manusia. Mudahnya mengakses jaringan internet secara mobile dengan ponsel pintar. Didukung pula Pemerintah yang memprioritaskan pembangunan konektivitas digital di wilayah Indonesia hingga daerah yang terpencil. Presiden Joko Widodo menyebutnya dengan istilah “tol langit”. Tol langit merupakan istilah dari proyek Palapa Ring yang di dalamnya terdapat penggunaan satelit[6]. Tak heran jika Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan banyaknya jumlah pengguna ponsel pintar mencapai 167 juta orang atau 89% dari total penduduk Indonesia[7].

Google adalah salah satu raksasa internet yang memiliki berkekhususan pada jasa dan produk internet dengan produk-produk yang dihasilkan meliputi teknologi pencarian, komputasi web, perangkat lunak, dan periklanan daring[8]. Dengan modal aplikasi milik Google, Penulis membuat PeMbungkus atau Pemeriksaan Mandiri Barang Dalam Keadaan Terbungkus.

PERANCANGAN PeMbungkus

Ide dasar dari PeMbungkus adalah Pelaku Usaha dapat melakukan pemeriksaan sendiri produknya, dalam hal ini kesesuaian label dengan ketentuan terkait BDKT. Pelaku Usaha mengakses formulir untuk memasukkan data-data terkait produknya dan dalam selang beberapa saat akan menerima surel yang berisikan lampiran dokumen berformat PDF yang berisikan Panduan Pelabelan BDKT yang sesuai dengan produknya.

Penulis memanfaatkan beberapa aplikasi Google dan Add-on Autocrat dalam melakukan perancangan PeMbungkus, yaitu:

  1. Google Formulir, yang digunakan sebagai formulir masukan data-data terkait produk Pelaku Usaha;
  2. Google Spreadsheet, yang digunakan untuk menampung data-data yang dimasukkan oleh Pelaku Usaha untuk kemudian secara otomatis diolah dan dengan memanfaatkan Add-on Autocrat menghasilkan dokumen berformat PDF yang dikirim ke alamat surel Pelaku Usaha; dan
  3. Google Slide, yang digunakan untuk membuat templat halaman Panduan Pelabelan BDKT.

Untuk mempermudah penyebarluasannya, Penulis menggunakan jasa pemendek tautan seperti https://s.id/ untuk menciptakan tautan yang gampang diingat.

Pertama sekali Penulis merancang Formulir PeMbungkus dengan Google Formulir yang akan menerima masukan data dari Pelaku Usaha. Formulir PeMbungkus meminta data-data dari Pelaku Usaha yaitu: surel (email), nama barang, merek, nama perusahaan, alamat perusahaan, status perusahaan, nomor Whatsapp, jenis BDKT, nilai kuantitas, dan satuan kuantitas. Tampilan Formulir PeMbungkus yang diakses oleh Pelaku Usaha lewat tautan https://s.id/pembungkus dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Formulir PeMbungkus

Selanjutnya Penulis membuat template halaman Panduan Pelabelan BDKT dengan menggunakan Google Slide (Gambar 2).

Gambar 2. Templat Panduan Pelabelan BDKT

Data dari Formulir PeMbungkus akan ditampung dalam sheet Form Responses 1 pada Google Spreadsheet. Penulis membuat sheet lain dengan nama Final (Gambar 3) yang berisikan formula-formula yang akan digunakan oleh Autocrat (Gambar 4) untuk menghasilkan dokumen Panduan Pelabelan BDKT berformat PDF dengan menggunakan template yang telah dibuat dengan Google Slide sebelumnya. Kemudian dokumen berformat PDF akan dikirimkan ke alamat surel Pelaku Usaha (Gambar 5). Di sini proses akan berlangsung secara otomatis. Dokumen berformat PDF tersebut dapat dibuka untuk dilihat atau dicetak dengan aplikasi pembaca dokumen PDF.

Gambar 3. Tampilan Sheet Final pada Google Spreadsheet
Gambar 4. Tampilan Autocrat
Gambar 5. Surel yang Dikirim ke Pelaku Usaha

TINDAK LANJUT

Selanjutnya diperlukan usaha untuk menyebarluaskan tautan Formulir PeMbungkus ini. Dapat dilakukan secara daring maupun luring. Secara daring dapat melalui media sosial atau pada saat kegiatan webinar. Secara luring dilakukan ketika melakukan kunjungan, penyuluhan, atau pengawasan ke Pelaku Usaha. Tautan pendek Formulir PeMbungkus yang telah dibuatkan Kode QR juga dapat dicetak ke media seperti kartu nama atau selebaran.

Data yang dihimpun dalam Google Spreadsheet selanjutnya dapat digunakan untuk pembinaan Pelaku Usaha. Dengan data yang telah masuk, dapat dilakukan pengawasan ke alamat Pelaku Usaha untuk memeriksa langsung kesesuaian pelabelan dan kebenaran kuantitas BDKT.

PENUTUP

Adalah benar kemasan harus menjual. Tapi pada dasarnya yang dijual itu adalah kuantitasnya. Orang membayar sejumlah nilai tertentu untuk kuantitas yang sesuai. Kuantitas ini tertulis pada labelnya, dengan semua ketentuan yang mengikutinya. Inilah yang harus gencar disosialisasikan kepada Pelaku Usaha sehingga tertib ukur di segala bidang dapat terwujud.

Lewat PeMbungkus ini, Penulis berharap dapat menjadi tangga kecil untuk melewati tembok keterbatasan yang ada dalam sosialisasi BDKT. Penulis berharap ini dapat menjadi upaya yang efektif dalam mendukung tugas Pengawas Kemetrologian. Semoga.

REFERENSI

  1. Punya Kualitas Bagus, Presiden Jokowi Optimistis Produk Kader-kader PKK Bisa Tembus Pasar. Diakses pada tanggal 27 April 2023.
  2. Luncurkan Kemitraan Inklusif UMKM Naik Kelas, Presiden Ingin Pengusaha Besar dan UMKM Kompak. Diakses pada tanggal 27 April 2023.
  3. Resmikan Papua Youth Creative Hub, Presiden Tingkatkan Kesejahteraan dan Kemajuan Papua. Diakses pada tanggal 27 April 2023.
  4. Kemenperin: Kemasan yang Bagus Bisa Dongkrak Penjualan. Diakses pada tanggal 27 April 2023.
  5. Kemenperin Luncurkan Platform Digital e-Kemasan IKM. Diakses pada tanggal 27 April 2023.
  6. Apa Itu Tol Langit? Diakses pada tanggal 28 April 2023.
  7. Kemenkominfo: 89% Penduduk Indonesia Gunakan Smartphone. Diakses pada tanggal 28 April 2023.
  8. Google Wikipedia. Diakses pada tanggal 28 April 2023.