Peluang Pemanfaatan Sumber Daya Alam Sektor Peternakan Dalam Produksi UMKM

 497x dilihat

Tidak berlebihan jika usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dikatakan sebagai tulang punggung perekonomian bangsa Indonesia. Dalam ASEAN Investment Report 2022: Pandemic Recovery and Investment Facilitation yang dirilis pada Oktober 2022 diketahui bahwa terdapat lebih dari 65 juta UMKM di Indonesia per tahun 2021 dan menempati 99,9% dari dunia usaha aktif. UMKM mampu menyerap 97% dari tenaga kerja, memberikan sumbangsih sebesar 60,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan 14,4% terhadap ekspor nasional. Dengan fakta tersebut, pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan UMKM, salah satunya melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) selama dan pasca pandemi Covid-19 dengan maksud melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya. Diharapkan dengan program PEN ini dapat menekan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat dampak pandemi Covid-19. Bersama dengan pemerintah, baik di tingkat pusat dan daerah, program pengembangan dan pemberdayaan UMKM juga dilaksanakan oleh BUMN, BUMD, dan swasta.

Tulisan ini difokuskan kepada UMKM yang menghasilkan produk berupa barang jadi. Secara garis besar, kategori produk yang dihasilkan para pelaku UMKM adalah pangan dan non pangan. Pemanfaatan sumber daya alam lokal – sumber daya alam yang menjadi kekhasan dan keunggulan di daerah operasional pelaku UMKM – merupakan salah satu cara pelaku UMKM dalam menghasilkan produk, baik dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan. Sumber daya alam dari sektor-sektor tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hasil dari sumber daya alam tersebut dapat diolah menjadi produk-produk yang bernilai ekonomi tinggi dibanding jika hanya dipasarkan dalam bentuk mentah. Bahkan hasil sampingnya pun dapat dimanfaatkan lebih lanjut jika diolah dengan cara yang tepat.

Sebagai contoh, tentu banyak sekali produk pangan yang dapat dihasilkan dari sektor peternakan dengan memanfaatkan telur, daging, dan susu. Pelaku UMKM dapat mengolahnya menjadi bahan baku utama atau bahan tambahan dan pelengkap produk pangan, misalnya sosis, nugget, bakso, omelette, telur gulung, es krim, tambahan pada kue dan roti, minuman, dan lain-lain. Selain itu, hasil samping peternakan, seperti bulu dan rambut hewan, cangkang telur dan tulang dapat dimanfaatkan menjadi produk-produk non pangan. Misalnya bulu ayam dijadikan sebagai kemoceng atau gantungan kunci, hiasan seperti dreamcatcher; rambut hewan menjadi pakaian, seperti jaket dan mantel; cangkang telur dan tulang menjadi aksesoris atau kerajinan. Sementara itu, kotoran ternak (feses dan urin) dapat dijadikan pupuk kandang. Cangkang telur dan tulang pun demikian, dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Diketahui bahwa cangkang telur dan tulang kaya akan kalsium dan fosfor, keduanya merupakan unsur mineral yang penting dalam tanah untuk tanaman (Puspitasari dkk (2018); Khalil dkk (2017)). Cangkang telur maupun tulang juga berguna sebagai bahan pakan ternak sebagai substitusi mineral industri. Kandungan kalsium dan fosfor pada cangkang telur dan tulang bermanfaat untuk pertumbuhan gigi dan tulang pada ternak. Selain itu, pemanfaatan limbah agroindustri seperti kulit singkong juga dapat dijadikan sebagai alternatif pakan ternak (Siburian dkk (2019)). Pemanfaatan limbah ini tentu dapat menekan biaya pakan yang menempati prosentase terbesar dalam operasional peternakan. UMKM sebagai motor penggerak perekonomian nasional dan ekonomi kreatif diharapkan dapat memperluas peluang usahanya dengan lebih peka terhadap sumber daya yang ada di sekeliling. Seperti yang telah disebutkan di atas adalah contoh kecil saja, masih banyak peluang lainnya, secara khusus sumber daya alam yang berasal dari sektor peternakan. UMKM harus mampu mengemas produk yang dihasilkan dengan baik dan memenuhi standar produk, sehingga memiliki nilai jual. Pemerintah juga senantiasa hadir dalam mendukung pengembangan UMKM, baik melalui pelaksanaan program pelatihan dan pemberian bantuan-bantuan. Masyarakat juga diharapkan untuk mau dan tidak malu menggunakan dan mengonsumsi produk dalam negeri sebab konsumsi produk dalam negeri meningkat, tentu bangsa berdaulat.

Referensi:

  1. Khalil, Reswati, Ferawati, Kurnia, Y. F., dan Agustin, F. (2017). Studies on Physical Characteristics, Mineral Composition, and Nutritive Value of Bone Meal and Bone Char Produced from Inedible Cow Bones. Pakistan Journal of Nutrition. Mei 2017 16(6), 426-434. DOI:10.3923/pjn.2017.426.434.
  2. Puspitasari, P., Yuwanda, V., Sukarni, dan Dika, J. W. (2018). The Properties of Eggshell Powders with the Variation of Sintering Duration. IOP Conference Series Materials Science and Engineering. April 2019 515(1), 012104. DOI: 10.1088/1757-899X/515/1/012104.
  3. Siburian, I. S., Mirwandhono, E., Yunilas, Wahyuni, T. H., dan Hamdan. (2019). The Changes of Nutrient Content of Cassava Peel (Manihot esculenta crantzz) That Fermented by Indigenous Microorganisms (IMO) for Animal Feed. Jurnal Peternakan Integratif. Juni 2019 7(2). DOI: https://doi.org/10.32734/jpi.v7i2.2170.
  4. The ASEAN Secretariat. (2022). ASEAN Investment Report 2022: Pandemic Recovery and Investment Facilitation. ASEAN Secretariat and the United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), October 2022.