Peluang Pasar Ekspor Produk Kerajinan Bambu Indonesia di Inggris

 1775x dilihat

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara dengan potensi ekspor yang sangat besar, dengan berbagai macam produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen di seluruh dunia. Pasar Inggris menawarkan peluang yang signifikan bagi bisnis Indonesia yang ingin memperluas portofolio ekspornya. Beberapa produk ekspor yang belum dimanfaatkan dari Indonesia ke Inggris termasuk produk kelapa, rempah-rempah, mebel, serat alami, dan turunan minyak sawit.

Indonesia juga merupakan penghasil beragam serat alami, termasuk rotan, bambu, dan pandan. Bahan-bahan ini ramah lingkungan, berkelanjutan, dan dapat digunakan untuk membuat berbagai produk seperti keranjang, tikar, dan mebel. Permintaan untuk produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di pasar Inggris menawarkan kesempatan bagi eksportir Indonesia untuk mengekspor produk-produk ini. Serat alami ini serba guna, tahan lama, dan memiliki tekstur dan nuansa yang unik, menjadikannya pilihan populer di antara konsumen Inggris.

Pasar Inggris saat ini semakin memperhatikan keberlanjutan dan ramah lingkungan dalam memilih produk konsumen. Oleh karena itu, ekspor barang-barang ramah lingkungan menjadi semakin penting. Indonesia memiliki banyak potensi dalam ekspor produk ramah lingkungan ke pasar Inggris, seperti produk kayu, bambu, rotan, serta produk turunan kelapa dan minyak sawit yang dihasilkan secara berkelanjutan. Produk-produk tersebut memiliki nilai tambah yang tinggi karena dihasilkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan lingkungan, sehingga dapat menarik minat konsumen Inggris yang semakin memperhatikan produk-produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, ekspor produk ramah lingkungan dapat memberikan peluang ekspor yang menjanjikan bagi bisnis Indonesia.

Kerajinan bambu adalah salah satu produk ekspor yang belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh Indonesia ke pasar Inggris. Indonesia memiliki sumber daya bambu yang melimpah dan keterampilan pengrajin yang terampil dalam membuat berbagai produk bambu berkualitas tinggi. Pasar Inggris menawarkan peluang bagi bisnis Indonesia untuk mengeksplorasi produk kerajinan bambu dan memasarkannya ke konsumen yang mencari produk yang ramah lingkungan dan unik. Dengan permintaan yang meningkat untuk produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, kerajinan bambu Indonesia dapat menjadi produk yang menarik bagi pasar Inggris.

TUJUAN

Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memberikan gambaran peluang pasar bagi produk kerajinan bambu (HS 46021100) di Inggris. Studi dalam penulisan artikel ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif yaitu dengan melakukan desk research berupa penelusuran terhadap literatur dan sumber-sumber data yang relevan.

PROFIL NEGARA INGGRIS

Inggris adalah negara maju yang terletak di bagian barat daya Eropa, dan merupakan bagian dari Uni Eropa hingga tahun 2020. Dengan populasi sekitar 67 juta jiwa, Inggris memiliki ekonomi yang besar dan terdiversifikasi dengan GDP (Gross Domestic Product) sekitar 2,6 triliun dolar AS pada tahun 2021. Ekonomi Inggris terutama bergantung pada sektor jasa seperti keuangan, perbankan, teknologi, pariwisata, dan layanan publik.

Sebagai negara maju, Inggris memiliki standar kualitas yang tinggi dan ketat dalam perdagangan internasional, baik dari segi kualitas produk maupun persyaratan hukum dan peraturan yang berlaku. Inggris juga memiliki pasar yang terbuka dan kompetitif dengan persaingan yang sehat di berbagai sektor. Inggris adalah salah satu negara dengan pasar konsumen terbesar di Eropa dengan tingkat pengeluaran konsumen yang tinggi. Konsumen Inggris dikenal memiliki selera yang beragam dan cenderung mengutamakan produk berkualitas tinggi dan inovatif. Selain itu, Inggris juga memiliki pasar yang terbuka terhadap produk impor dan konsumen yang cenderung mencari produk-produk eksotis dan unik dari luar negeri.

PERDAGANGAN INDONESIA - INGGRIS

Berdasarkan data terbaru dari International Trade Centre, nilai perdagangan antara Indonesia dan Inggris pada tahun 2020 mencapai USD 2,4 miliar, dengan neraca perdagangan yang positif bagi Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya potensi dan peluang yang besar bagi kedua negara dalam meningkatkan kerja sama perdagangan.

Secara spesifik, ekspor Indonesia ke Inggris pada tahun 2020 mencapai USD 1,8 miliar, sedangkan impor dari Inggris ke Indonesia mencapai USD 0,6 miliar. Komoditas ekspor utama Indonesia ke Inggris adalah minyak kelapa sawit, kayu, karet, dan sepatu. Sementara itu, impor utama Indonesia dari Inggris meliputi mesin-mesin, kendaraan bermotor, dan produk farmasi.

Tren perdagangan antara kedua negara dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang positif. Pada tahun 2016, nilai perdagangan antara Indonesia dan Inggris mencapai USD 2,1 miliar, sedangkan pada tahun 2020, nilainya meningkat menjadi USD 2,4 miliar. Meskipun demikian, ada potensi untuk meningkatkan lagi nilai perdagangan antara kedua negara, terutama dengan memperkuat kerja sama dalam sektor ekonomi yang potensial, seperti industri kreatif, pariwisata, dan energi terbarukan.

Dengan adanya potensi pasar dan kerja sama yang baik antara Indonesia dan Inggris, kedua negara dapat memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan nilai perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan. Peran pemerintah dan pelaku bisnis dalam memperkuat hubungan kedua negara juga menjadi kunci dalam meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi di masa depan.

PASAR EKSPOR PRODUK KERAJINAN BAMBU DI INGGRIS

Tren Produk Kerajinan Bambu

Tren konsumsi yang mengutamakan keberlanjutan di Inggris telah menjadi semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Konsumen di Inggris terutama dari kalangan milenial dan Gen Z semakin memperhatikan dampak lingkungan dari kegiatan konsumsinya dan semakin memilih produk yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial.

Sebuah survey yang diadakan oleh Deloitte terhadap konsumen di Inggris pada tahun 2022 memaparkan beberapa hal yang dirasa penting bagi konsumen sebagai praktik yang etis dan ramah lingkungan. Kelima hal tersebut adalah:

  1. Kemasan dan produk yang berkelanjutan.
  2. Pengurangan limbah dalam proses manufaktur/produksi.
  3. Komitmen pada praktik kerja yang etis (sistem upah yang adil, tidak ada pekerja di bawah umur, dll).
  4. Pengurangan jejak karbon.
  5. Penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Berdasarkan tren pasar tersebut, produk kerajinan berbahan bambu memiliki potensi yang sangat besar, karena menggunakan bahan baku alami yang dapat didaur ulang. Beberapa bentuk kerajinan bambu yang memiliki peluang ekspor adalah: keranjang bambu sebagai wadah ramah lingkungan, keranjang/wadah portabel yang dapat juga berfungsi sebagai kemasan, anyaman bambu sebagai elemen dekoratif.

Produsen/eksportir kerajinan bambu juga perlu menambahkan cerita tentang 3P yaitu People, Profit and Planet (Manusia, Keuntungan, dan Planet Bumi) di balik produksi produk kerajinan tersebut yang memiliki filosofi tentang keberlanjutan. Penceritaan (storytelling) tentang produk inilah yang akan membuat konsumen terikat secara emosional dan pada akhirnya tergerak untuk membeli produk tersebut.

Struktur Pasar

Secara umum, pasar keranjang dekoratif berbahan serat alami (bambu, rotan, eceng gondok dll) mengalami peningkatan tren konsumsi dari tahun ke tahun. Jerman merupakan negara importir terbesar produk keranjang dikoratif ini, disusul dengan Inggris, Belanda, Prancis, Spanyol dan Polandia.

Gambar 1. Tren Impor produk keranjang dekoratif di Eropa (nilai Impor dalam juta Euro)
Sumber data: UN Comtrade
Gambar 2. Produk kerajinan bambu untuk ekspor.
Sumber: Website Bloomsburry Market, Bay Isle Home, Amazon.com

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) mengakibatkan perubahan struktur pasar yang signifikan.  Saat ini pembeli dari Inggris memilih untuk mengimpor lebih langsung dari negara berkembang, bukan dari importir Eropa. Ini memungkinkan mereka untuk menghindari biaya tambahan sekarang karena mereka tidak lagi menjadi bagian dari pasar tunggal Uni Eropa. Hal ini tentu merupakan peluang yang sangat baik bagi produk-produk kerajinan bambu dari Indonesia.

Saluran Distribusi

Saluran yang digunakan untuk memasarkan produk kerajinan bambu di Inggris dan di Eropa pada umumnya mengikuti pola tradisional yaitu impor dilakukan melalui importir/pedagang besar yang memasok ke peritel. Jaringan ritel yang lebih besar sering kali membeli tanpa importir/grosir dan mengimpor sendiri, sementara semakin banyak peritel kecil yang mulai membeli langsung dari pemasok. Dalam beberapa kasus, agen pembelian juga berperan.

Importir/pedagang besar menangani prosedur impor. Mereka mengambil alih kepemilikan barang ketika mereka membeli dari eksportir, dan menanggung risiko penjualan produk selanjutnya. Pengembangan hubungan dan jejaring kerja  jangka panjang antara eksportir dan importir dapat menghasilkan kerja sama tingkat tinggi dalam hal informasi pasar terkait desain yang sesuai untuk pasar, tren baru, penggunaan bahan, jenis finishing, dan persyaratan kualitas.

Peritel memiliki berbagai ukuran: peritel besar dan merupakan bagian dari sebuah jaringan, atau  peritel kecil yang berdiri sendiri. Jaringan ritel yang lebih besar sering kali mengimpor langsung dari pemasok mereka di negara berkembang. Banyak yang bahkan memiliki kantor pembelian sendiri di negara berkembang. Yang lainnya, terutama toko-toko independen yang lebih kecil, memesan di Eropa dari pedagang besar.

Selain saluran distribusi tradisional, saat ini saluran pemasaran online melalui e-commerce pun mulai berkembang.  E-commerce terus berkembang, terutama sejak pandemi COVID-19. Cara terbaik eksportir kerajinan bambu untuk mendapatkan keuntungan dari hal ini adalah dengan memasok ke grosir atau peritel Eropa yang memiliki kehadiran online yang kuat. Bagi sebagian besar produsen, pemasaran melalui e-commerce bukanlah saluran yang terpisah. Melayani pembeli yang berjualan secara online tidak berbeda dengan bisnis reguler Anda. Peritel sering kali menggabungkan saluran online dan offline, tetapi cara memasoknya sama. Perusahaan yang hanya menjual secara online juga perlu menyediakan stok sebelum dapat menjual.  Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa menjual langsung ke konsumen di Inggris melalui situs web eksportir sendiri bisa jadi rumit dan mahal. Eksportir harus bertanggung jawab atas berbagai faktor seperti kewajiban purnajual dan sistem pembayaran untuk konsumen. Bagi sebagian besar eksportir dari negara berkembang, hal ini tidak memungkinkan karena membutuhkan pengembangan sistem dan biaya yang tidak sedikit.

Kompetitor

Cina dan Vietnam memasok lebih dari separuh impor keranjang dekoratif berbahan bambu di Inggris. Kedua negara ini terutama menyediakan keranjang yang diproduksi secara massal untuk segmen kelas bawah. Produk  Indonesia, sendiri berada pada kelas mid-end consumer dengan pesaingnya merupakan hasil kerajinan bambu dan serat alam lainnya dari Bangladesh dan Madagaskar. Gambar 3 menunjukkan pangsa pasar produk kerajinan bambu di Inggris. Gambar lingkaran kuning menunjukkan bahwa pertumbuhan impor Inggris terhadap negara mitra dagangnya lebih kecil dari pertumbuhan pasar ekspor negara mitra ke dunia.  Sedangkan gambar lingkaran biru menunjukkan bahwa pertumbuhan impor Inggris terhadap negara mitra dagangnya lebih besar dari pertumbuhan pasar ekspor negara mitra ke dunia.

Gambar 3. Pangsa pasar produk kerajinan bambu di Inggris
Sumber: International Trade Centre

AKSES PASAR PRODUK KERAJINAN BAMBU

Tarif Impor

Produk kerajinan bambu dalam bentuk keranjang dapat dimasukkan pada kelompok produk dengan kode HS 4602110010 yaitu keranjang dari anyaman, dan barang anyaman lainnya, yang dibuat langsung untuk dibentuk dari bahan anyaman bambu atau dibuat dari barang anyaman bambu dari pos 4601, dan barang loofah (tidak termasuk pelapis dinding dari pos 4814; benang, tali dan tali; perlengkapan kaki dan tutup kepala dan bagiannya; kendaraan dan perlengkapan kendaraan; barang dari pos 94, seperti perabot rumah tangga, perlengkapan penerangan): Dari bahan anyaman, buatan tangan. Produk ini memiliki tarif impor MFN (Most Favoured Nation) sebesar 2%. Akan tetapi, Inggris memberikan tarif preferensi (preferential tariff for GSP Countries) sebesar 0% untuk Indonesia dan 11 negara lainnya. Keringanan tarif preferensi ini tentu akan membuat produk Indonesia menjadi semakin bersaing di pasar Inggris. Untuk memanfaatkan tarif preferensi tersebut, eksportir perlu menyertakan Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO) Form A sebagai salah satu dokumen ekspornya.

Ketentuan Teknis Produk

Secara umum, produk kerajinan bambu yang diekspor ke Inggris harus memenuhi ketentuan keselamatan bagi konsumen. Produk yang dianggap dapat membahayakan konsumen akan ditolak untuk masuk ke wilayah negara Inggris. Untuk produk kerajinan bambu misalnya, harus dipastikan bahwa serat bambu yang digunakan sebagai anyaman sudah tidak tajam dan dapat melukai konsumennya. Produk yang diekspor harus mencantumkan informasi seperti identitas produsen dan referensi produk, sehingga produk yang berbahaya dapat dilacak. Jika diperlukan untuk penggunaan yang aman, produk juga harus disertai dengan peringatan dan informasi tentang risiko yang melekat.

Selain itu, produk kerajinan bambu juga tidak boleh mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi manusia seperti:

  • Beberapa pewarna azo yang digunakan terutama untuk produk tekstil.
  • Timbal dalam cat dan lapisan keramik.
  • Senyawa kadmium dalam berbagai aplikasi.
  • Arsenik dan kreosot sebagai pengawet kayu.
  • Penghambat api, termasuk TRIS, TEPA dan PBB.
  • Senyawa organostannik dan ftalat dalam PVC.

KESIMPULAN

Produk kerajinan bambu Indonesia memiliki potensi besar untuk memasuki pasar Inggris karena terdapat permintaan yang meningkat untuk produk ramah lingkungan dan keberlanjutan di negara tersebut. Sebagai salah satu bahan baku yang terbarukan dan ramah lingkungan, bambu dapat menjadi alternatif yang menarik bagi konsumen Inggris yang semakin sadar akan dampak lingkungan dari konsumsi mereka. Selain itu, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam produksi kerajinan bambu, dengan berbagai produk seperti tas, furnitur, dekorasi, dan aksesoris yang dapat diproduksi dalam jumlah besar dan berkualitas tinggi. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemasok utama kerajinan bambu di pasar Inggris.

Namun, peluang pasar kerajinan bambu Indonesia di Inggris juga harus memperhatikan beberapa aspek, seperti standar kualitas dan keselamatan produk yang diimpor ke Inggris. Produk bambu yang diimpor harus memenuhi persyaratan standar keamanan dan kualitas yang ketat, termasuk penggunaan bahan baku yang berkualitas dan proses produksi yang ramah lingkungan.

Selain itu, perlu juga memahami preferensi konsumen Inggris dalam memilih produk kerajinan bambu, seperti desain dan model produk yang menarik serta harga yang bersaing. Mengenal dan menjalin jejaring bisnis yang baik dengan importir akan membantu ASN bidang perdagangan dalam memahami pasar Inggris dan kebutuhan konsumen serta membantu produsen Indonesia mengembangkan produk yang cocok dan memenuhi standar pasar.

REFERENSI

  1. Which trends offer opportunities or pose threats on the European home decoration and home textiles market?
  2. Entering the European market for basketry.
  3. United Kingdom - The World Factbook.
  4. Market Access Map.
  5. Trade Map - Bilateral trade between United Kingdom and Indonesia.